Gerakan Mahasiswa Kurang Diminati

Mahasiswa di berbagai kampus di Palembang, Sumatera Selatan, dan di kota lain semakin tidak berminat berkecimpung dalam gerakan atau organisasi mahasiswa. Kondisi tersebut membuat para aktivis mahasiswa gelisah.

Demikian hal tersebut terungkap dalam semiloka Menggagas Format Baru Organisasi Mahasiswa di Kampus Universitas IBA, Kamis (10/12/2009). Hadir sebagai pembicara, penulis lagu legendaris, Iwan Abdulrachman, dan seniman Aat Soeratin. Keduanya adalah mantan aktivis mahasiswa.

Menurut Iwan, mahasiswa sering menganggap dirinya mewakili masyarakat. Padahal, mereka sebenarnya hanya mewakili diri sendiri. ”Saat mahasiswa berunjuk rasa, mereka berpendapat sedang menggerakkan people power. Padahal, saat mereka berunjuk rasa, tidak ada masyarakat yang mendukung,” kata Iwan.

Iwan mengungkapkan, akibat tidak adanya dukungan dari masyarakat, mahasiswa menjadi anarkis. Iwan menjelaskan, mahasiswa yang melakukan tindakan anarkis saat berunjuk rasa menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut frustrasi.

”Para mahasiswa yang anarkis itu marah pada diri sendiri. Mereka jadi berpikir tidak rasional dan tidak bisa menerima kenyataan,” kata Iwan.

Solusinya, kata Iwan, aktivis mahasiswa tidak perlu merasa kecil apabila dalam aksinya tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat dan teman-teman mahasiswa. Mahasiswa tidak perlu merasa kecil ketika berbicara atas nama dirinya.

Menurutnya, yang penting mahasiswa tetap bersuara kritis dan mempunyai pendapat. Mahasiswa juga tidak boleh menyerah ketika menemui hambatan dalam beraktivitas, misalnya tidak ada dukungan dari pihak universitas atau fakultas.

Kelompok elite

Aat Soeratin mengutarakan, mahasiswa harus menyadari posisinya sebagai kelompok pilihan sebab jumlah mahasiswa di antara penduduk Indonesia sangat kecil. Aat menuturkan, apabila mahasiswa tidak menyadari posisinya, berarti mahasiswa telah mengkhianati rekan-rekannya yang tidak mempunyai kesempatan menjadi mahasiswa.

Menurut Aat, mahasiswa harus melatih empatinya terhadap lingkungan sekitarnya. Mahasiswa, harus diakui, kadang tidak paham dengan inti persoalan yang diperjuangkan dalam berunjuk rasa.

”Mahasiswa punya kewajiban membuka ruang pendidikan di luar institusi resmi. Di Bandung, ada sejumlah mahasiswa yang mengajar anak jalanan,” katanya.

Aat mengungkapkan, para mahasiswa yang mengajar anak jalanan itu karena panggilan dari jiwa masing-masing.

http://edukasi.kompas.com

Categories: Peristiwa | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: